Senin, 21 Maret 2011

KMKM~First Encounter (5th kiss-2/3)


Kill Me Kiss Me
~First Encounter~
5th Kiss Part.2/3
Sial” suara Matt bergetar menahan kemarahan yang bercampur dengan kesedihan dan takut akan kehilangan.
“APA YANG KAU LAKUKAN PADA KAKAKKU?!!”
Selalu berulang, perjumpaan dan perpisahan. Angin di Windy City mengantarkan kisah mereka yang akan terus berulang dalam kotak bernama dunia.
Teriakan Matt tak membuat Mello bergeming. Meski satu pukulan telah mendarat di wajahnya dan membuatnya jatuh, Mello tetap tak melepaskan seringainya. Tepat ketika Matt akan kembali menghantamkan kepalan tangannya, keningnya merasakan sesuatu yang dingin. Seorang pria setengah baya menodongkan pistol ke keningnya. Matt teralihkan, lengah pada pria lain yang berdiri di belakangnya dan menendangnya hingga jatuh.
Matt terkapar di lantai. Pistol masih menempel di keningnya bahkan kini ada di kedua sisinya.
“Matsuda, Aizawa… lepaskan dia” Ucap Mello datar. Aizawa menyingkir dan membantu Mello berdiri. Tapi Matsuda tidak menurut.
“Tapi Mello-san, setidaknya aku harus menghajar orang tak tahu balas budi ini!”Matsuda melampiaskan kemarahannya dengan menekankan moncong pistolnya ke wajah Matt,berusaha menyakitinya. “Padahal Mello-san sudah menyelamatkan gadis itu sampai kaki Mello-san-“
“Matsuda!” Bentakan Mello membuat Matsuda berjingit. “Kau dengar perintahku?”
Matsuda mundur dengan sangat terpaksa. Mello menepiskan lengan Aizawa yang sedari tadi memapahnya. “Sudah kubilang jangan bawa senjata api ke tempat umum, idiot!”
Mata Mello tertumpu pada Matt yang masih tergeletak di lantai.
Meski mata Matt tak bertemu dengan mata Mello, meski dia sama sekali tak melihat pria yang berdiri di hadapannya, Matt dapat merasakan pandangan tajam Mello menusuknya, merendahkan dirinya.
“Sampai kapan kau mau terkapar di situ?” Mello mengulurkan tangannya. Matt mendongakkan kepalanya. Matanya tak menangkap lagi seringai di wajah Mello, wajah itu kembali datar.
Matt tak langsung menyambut uluran tangan Mello, dia tetap di lantai, mendongak pada mata mati pria blonde di depannya. Menanti sebuah jawaban dari pertanyaan yang ada di benaknya naumn tak mengalir dari bibirnya.
Apa maksudnya kau yang menolong Misa?
Mello menyiripkan matanya, mengungkap apa yang ada dalam benak Matt. Meskipun dia bisa dengan mudah menebaknya, Mello tidak menjawab dan mengatakan apapun selain “Aku benci orang yang menolakku” ucapnya sembari menggerakkan tangannya yang terulur.
Matt menyambut uluran tangan Mello. “Ini bukan berarti aku menerima ‘pinangan’mu”
Samar, Matt dapat melihat kilatan kelicikan di mata Mello. “Kau akan menerimanya. Kau pasti akan menerimanya…”Mello membantu Matt berdiri lalu melingkarkan lengannya ke leher si maniak game, merangkulnya. Sang consigliere termuda menyadari tatapan kedua anak buahnya yang penuh tanda tanya, keheranan dan selidik pada dirinya dan Matt. “Ada masalah? Pergi, sebelum aku dapat masalah dengan senjata yang kalian bawa!” perintah Mello.
Matsuda baru saja akan protes & bertanya (lagi), tapi Aizawa terlebih dahulu menutup mulutnya dan menyeret dengan paksa si dan 7 karate. “Hanya 14 jam. Dia tak akan mentolerir lebih dari itu”ucap Aizawa sebelum menghilang di belokan lorong rumah sakit.
“Yeah, tentu saja. Kakek tua sialan!”desis Mello nyaris tak terdengar.
“Misa… Aku harus melihatnya. Dia…”Mello memandang pintu ruang UGD yang masih tertutup. Keringat dingin masih mengucur di keningnya, hingga sadar lengan Mello membuat berat pundaknya. “Apa yang… Lepaskan rangkulanmu! Aku sama sekali… ku selamatkan, aku… aku melihat ruangan Misa… Lepaskan!” perintah Matt, terbawa kalut akan kondisi kakaknya, membuat kata-katanya tak tersusun, begitupula debar jantung dan nafasnya. Otaknya tak lagi mampu berfikir jernih.
Mello melihat sekilas ke dalam mata panik & kebingungan Matt. Lalu dia melakukan apa yang dia bisa. Tanpa melepaskan lengan dari leher si gogle, dia menjatuhkan diri ke atas bangku, membawa Matt ikut terduduk bersamanya. Lebih  tepatnya, membuat Matt terduduk dan Mello duduk di atas pangkuan Matt. “Kulepaskan kalau kau menerima proposalku…”
Matt terperangah. Untuk sekejap kepanikannya atas Misa terlupakan. Wajah Mello yang dilihatnya saat ini mengalihkan seluruh dunia Matt. Seorang mafia high ranked duduk di atas pangkuan Matt, merangkulnya - takkan melepaskan rangkulannya sampai Matt menyetujui proposal mencurigakan dan mafia itu kini merengut dengan wajah manja ala Misa.
Mataku rusak! Itulah kesimpulan yang dibuat otak Matt. Seluruh bulu kuduknya berdiri. Wajah manja Mello dan nenek penyihir seribu tahun berada pada posisi yang sama di timbangan wajah versi Matt.Tunggu! kenapa aku membandingkannya dengan perempuan?!
“Bercanda…” Mello melepaskan rangkulannya dan menyingkir dari pangkuan Matt, di iringi helaan nafas lega si rambut merah. “Sekarang kau sudah lebih tenang kan?”
Matt memegangi dadanya, merasakan debar jantungnya yang mulai normal. Sial, dia mempermainkanku. Cara yang tak normal, mafia aneh… tapi, ya… berkat dia aku bisa sedikit tenang. “Terima kasih…”ucap Matt kembali teringat pada Misa dan perban di kaki Mello. “Luka itu…”
“Jangan salah paham. Aku hanya kebetulan di sana. Luka ini juga karena kecerobohanku sendiri” Mello meluruskan kedua kakinya. “Aku sama sekali tidak menolong Misa”.
Matt tak beraksi atas sangkalan Mello. Dia menyatukan kedua tangan dan menelungkupkan wajahnya hingga keningnya menyentuh kepalan tangan. “Ternyata benar… kau yang menyelamatkan Misa”.
“Bocah brengsek, kau tidak pernah dengar perkataan orang ya?”
“Terima kasih… dan maaf”
Mello mendengus kesal. “Terserah kau…”
Sejenak keheningan meliputi mereka berdua. Lorong yang sunyi tak memberikan suara apapun selain nafas dan detak jantung mereka berdua. Matt melihat pintu ruang tempat Misa berada, berharap Misa keluar dari sana sambil marah-marah lalu melampiaskan pada dirinya. Harapan yang sepertinya sulit diraih.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Matt akhirnya.
Mello mengeluarkan pematik api hitam dari saku dan mulai memainkan tutupnya. Suara besi yang beradu menambah simfoni dalam sunyi penantian. Matt tak dapat menangkap apa yang sedang dipikirkan oleh Mello. Segala hal tentang pria gothic di sampingnya selalu merupakan misteri bagi Matt.
“Di toilet restoran kemarin, itu adalah informasiku yang terakhir sampai kau menerima tawaranku. Kau masih ingat itu kan?” Mello berhenti memainkan pematiknya. “Kalau aku memberi informasi ini…” Mello membiarkan kata-katanya mengambang.
Dasar mafia, tidak ada yang gratis huh?,batin Matt. “Tentu saja, kau bisa menghitungnya sebagai hutang. Bagaimanapun ini tentang Misa…”
Mello menggenggam pematik di tangannya dengan sangat keras hingga telapak tangannya sakit. “Berhutang dengan mafia sama saja menjual nyawa. Apa kau menyayangi Misa lebih dari nyawamu?”
“Tentu saja, dia kakakku. Tidak… lebih dari itu. Misa adalah ibu, ayah dan keluarga bagiku”
“Kau membuatku mual!” Mallo melempar Pematik di tangannya, lalu sang pematik itu jatuh tepat di atas tangan Matt, kepada pemilik yang sebenarnya. “Kukembalikan… bagaimanapun tanpa itu kau tak bisa jadi Kira kan?”
“…?...”Tanda tanya berkumpul di atas kepala Matt.
Mello menyandarkan punggungnya. “Aku hanya akan menceritakannya sekali. Jadi dengarkan baik-baik”
*-,-*-‘-*Ouran club 3 jam yang lalu*-,-*-‘-*
“Mello, apa kau pernah mencintai seseorang lebih dari nyawamu?”
Pertanyaan Misa kembali membuat Mello tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa meneguk perlahan alkohol dalam gelasnya. Pelajaran bahasa Jepang dengan cepat berakhir ketika alkohol berbicara.
Misa menghabiskan gelas ke-13 dalam sekali teguk. “Sederhananya, tak apa kau mati asalkan orang itu selamat. Bahkan kau akan menjual nyawamu pada setan asal itu menjamin kebahagiaannya” ucap Misa dengan wajah memerah. “Jadi, ada atau tidak?!”.
Mello ragu kalau gadis di hadapannya mabuk. Toleransi alkohol Misa yang tinggi sudah teruji dalam makan malamnya selama seminggu ini. Sengaja pura-pura mabuk untuk membuatku lengah dan mengatakan segalanya, kau memang gadis yang menarik Misa. Baiklah, aku akan mengikuti tipuanmu.
“Ada… bahkan bukan hanya seorang” jawab Mello setelah jeda panjang. Mello melihat rasa penasaran terpampang dengan jelas di wajah Misa. “Tapi bukan berarti aku sangat mencintai mereka. Hanya saja nyawaku sama sekali tidak berharga”.
Misa berdiri di atas sofa lalu menunjuk Mello. “Jangan bilang kau punya kekasih selain Matt!” suaranya dipenuhi amarah palsu.
“Bukan… bukan cinta yang seperti itu. Hampir sama dengan yang kau rasakan pada Matt, tapi tak mungkin lebih”.
Misa kembali duduk dan menempel pada Mello. Bermanja-manja pada calon adik iparnya. “Ya, memang tak akan ada yang bisa mencintai adiknya lebih dari aku mencintai Matt. Cintaku ini cinta ibu tahu!” Misa bernarsis ria dan menyandarkan kepalanya pada pundak Mello. “Apa kau menyukai Matt yang maniak techno itu? Seluruh dirinya…?”
Mello membiarkan kepala Misa membuat bahunya berat. Dia teringat pertemuan dengan Matt di lorong pada malam natal. Detik ketika matanya beradu dengan pemuda berlumuran darah itu dia telah memutuskannya.  “Aku menitipkan nyawaku padanya. Apa itu cukup?”
Misa menggeleng. “Kau tahu, aku sama seperti seorang ibu yang akan tetap mencintai anaknya tak peduli walau dia ternyata alien atau pembunuh berdarah dingin. Apa kau bisa melakukannya?” Dia melingkarkan kedua lengannya ke leher Mello. Matanya menatap lurus, mencari kejujuran di Mata Mello. “lagipula, apa maksudmu menitipkan nyawa yang tak kau hargai itu? Pernyataanmu abigu dan menjebak. Kau ini licik ya, Mello?” bisik Misa perlahan.
Mello mengernyitkan keningnya. Kau sendiri, suddah tahu sejauh mana tentang Kira? Misa, jangan-jangan kau sudah… Pemilik rambut blonde itu menyingkirkan pemikirannya dan membuka kartu as untuk mengakhiri pembicaraan yang menyudutkannya. “Lebih licik mana dengan gadis yang pura-pura mabuk?”
Misa mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “O.k… kau pemenangnya. Tak heran Matt jatuh ke perangkapmu makhluk licik” Misa tertawa lepas. Sudah lama dia tak merasa sebebas ini dengan orang selain Matt. Perasaan yang ringan dan terbuka, tanpa takut orang itu akan memanfaatkannya.
Tapi tawa itu tak berlangsung lama. Tawa lepas yang renyah dan menyenangkan itu terhenti seketika. Tak hanya tawa, senyumpun lepas dari wajahnya. Misa terdiam, menatap lurus ke satu titik.
Mello mengikuti arah pandangan Misa dan menemukan penyebab lenyapnya keceriaan Misa. 4 orang pemuda yang sangat Mello kenal memasuki Ouran. Diantara mereka ada orang yang tak boleh ditemui oleh Misa.
“Misa, kita pergi dari sini…” Mello segera bangkit dan menarik lengan Misa. Tapi Misa tak bergeming. Seolah ia membatu oleh tatapan Medusa. Jangan-jangan dia…
“Hei bitch! Kemari dan temani kami ‘bermain’” panggil pria berwajah asia pada Misa. Tubuh Misa gemetar.
“…ni… Oni…”dengan suara gemetar ia berbisik. Misa seolah berada di alam lain yang dipenuhi kenangan tanpa kesadaran.
“Misa…?”
*-,-*-‘-*now*-,-*-‘-*
“Ya… itu salahku karena aku tak bisa mencegah Misa pergi mendekati mereka.” Mello menutup wajah dengan telapak tangannya. “Aku bahkan tak dapat membantu saat mereka berempat ‘menyerang’ Misa”. Suara Mello semakin rendah lalu menghilang. Seolah tertelan oleh penyesalan.
Wajah Matt memucat. “Tidak mungkin Misa…” air ludah di telan, namun tenggorokannya tetap tak mengizinkan kata-kata mengerikan keluar. “Maksudmu Misa...”
Mello kembali duduk tegak.“Kau benar”.
Warna lenyap dari wajah Matt. Mello tak peduli dan melanjutkan ceritanya.
“Misa tak mungkin kalah. Dia dengan mudah mengalahkan mereka berempat. Karena itu aku sama sekali tak bisa membantunya. Dia memang tak kuat, tapi teknik karatenya bukan sembarangan”
Kalau ngga ada apa-apa jangan pasang muka dramatis!! Protes Matt dalam hati. “Aneh…” Matt merunut ingatannya. Misa tak pernah berkelahi dengan pelanggannya. Hanya aku sansak hidupnya selain orang-orang di dojo. Selain itu dia tak pernah terpancng emosinya kecuali… tidak mungkin…
“Kau tidak bertanya kenapa kakiku jadi seperti ini” Mello mengetuk gips di kaki kanannya “dan kenapa Misa bisa masuk ke sana?” telunjuk Mello menunjuk ke pintu unit gawat darurat.
Matt tersingkir dari dunia analisis alam pikirannya. “Tanpa kutanya pun kau akan menceritakannya padaku kan? Untuk menambah hutangku. Lagipula garis besarnya sudah terlihat… pemuda tadi dendam dan kau menolong Misa dari balas dendam licik mereka. Melihat lukamu, ditabrak dengan mobil kurasa” Mata jenius Matt berkilat. Hanya saja kalau kau sudah menyelamatkannya, kenapa Misa masuk unit gawat darurat?
“Bingo! Kemampuanmu sudah cukup untuk buka kantor detektif” Mello berusaha berdiri dengan tertatih. Tapi Matt sama sekali tak tergugah hatinya untuk membantu. “Tepatnya mobil ferari merah keluaran summer 2008. idiotpun tahu itu di sengaja. Seperti yang sudah kau katakan, aku mendorongnya sehingga justru aku yang tertabrak. Dan seperti yang ku katakan sebelumnya… Aku sama sekali tidak menolongnya.”
“Misa tidak tertabrak. Apa itu bukan pertolongan?”
Mello menggeleng. “Aku terlambat…” Mello memandang langsung ke mata Matt. “Bukan… kau yang terlambat”, bersamaan dengan perkataan berikutnya. Pintu ruang UGD terbuka. “kau terlambat dua musim untuk menyadarinya. Dia sudah tak tertolong”
Mata Matt terbelalak. Seorang dokter keluar dengan kepala tertunduk, dia melepaskan kacamatanya dan memberikan kabar yang membuat tubuh Matt membeku.
“Pasien sekarang dalam kondisi koma. Maaf. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi Leukimia yang dia derita sudah stadium akhir”
“A- apa…apa maksudnya… Leukimia?”
Mello berjalan menjauhi Matt. Dia tak mau melihat wajah menyedihkan dari Kira. Cerminan wajahnya yang dulu, wajah yang takut akan kehilangan segala-galanya.
“Sudah kukatakan bukan? Kau terlambat dua musim”
---
Keterangan:
Oni - setan
Paragraf 15, mew memutuskan menggunakan kata ‘pinangan’ daripada tawaran dan selanjutnya mengubahnya jadi proposal. Karena selama ini Mello mengatakan tawarannya pada Matt sbg “… propose” atau “proposal” yang bisa berarti usul/ tawaran atau lamaran. Ambigu. Mereka pakai bahasa Inggris-America seh. Makanya Matsuda dan Aizawa rada panik, karena mengira bosnya melamar cwo.


Mew melakukan (sangat)sedikit perbaikan dari yang mew post di Fanfiction.net. Oh, mew nyaris lupa... di 4th kiss game tokoh yang dibajak itu Riku dan Heartless dari game Kingdom Hearts. Karena cerita kali ini serius pembajakan karakter dihentikan sementara waktu...*sigh*


Berikutnya part terakhir dari 5th Kiss.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tulis komentar kamu di sini